VISI BKM ANUNTODEA

"MEWUJUDKAN MASYARAKAT SEJAHTERA YANG MANDIRI DENGAN PENATAAN LINGKUNGAN YANG SEHAT DAN ASRI"



Jumat, 22 Januari 2010

APAKAH ENGKAU MASIH WARAS.....??????


Dalam perjalanan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) di penghujung tahun 2003 di Kota Palu, yang kemudian berubah menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan, tersebutlah sosok seorang relawan bernama Johnny Djohan.

Pria kelahiran, Jakarta, 52 tahun silam itu mulanya terpilih sebagai Koordinator BKM di kelurahan Donggala Kodi, kecamatan Palu Utara, pada tahun 2005. Dua tahun berikutnya, ia terpilih kembali sebagai koordinator BKM. Karena kinerjanya dinilai baik oleh para pihak, pada lokakarya PAKET tahun 2007, ia terpilih menjadi Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) pada Program Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (PAKET) di Kota Palu.

Kesehariannya, Johnny Djohan berprofesi sebagai wiraswastawan. Saat ini ia memiliki sebuah bengkel las, namun Johnny tak pernah berurusan hal yang detil tentang usaha bengkel las itu, karena ia percayakan sepenuhnya kepada tiga karyawannya. ”Saya hanya terima laporan,” ujarnya.

Mengenai dukungan yang ia berikan terhadap pelaksanaan PAKET di Kota Palu maupun pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di kelurahan Donggala Kodi, Johnny Djohan hanya mengatakan, ”Sekitar 60 persen waktu saya tersita untuk urusan PAKET dan PNPM Mandiri Perkotaan.”

Dan, meski tidak ada profit margin dalam urusan PAKET, Johnny berkomentar, jika kita mengerjakan sesuatu dengan ikhlas dan hasilnya dirasakan oleh masyarakat, apalagi manfaatnya langsung pada warga miskin, maka nilainya kepuasan itu tak bisa ditakar secara statistik. ”Ini soal rasa dan kepuasan yang tak bisa dihitung dalam matriks dengan kalkulasi profit margin,” tegasnya.

Ketika terpilih sebagai Koordinator Pokja, bersama sejumlah kolega, ia menyambangi sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kota Palu, yang juga anggota Pokja PAKET. ”Semacam sosialisasi lah,” ujar Johnny.

Menurutnya, menghadapi SKPD tidak mudah, karena mereka telah terpola dalam sistem dan kebijakan yang belum terlalu pro poor. Namun, berkat pendekatan yang dilakukan, akhirnya sejumlah SKPD bisa terlibat dalam mengerjakan pekerjaan secara bersama dengan masyarakat. Untuk kota Palu, tercatat enam SKPD dan satu perguruan tinggi tengah menggarap program Sinergi Pemberdayaan Potensi Masyarakat (SIBERMAS), terlibat bersama dalam PAKET 2007.

Bagi Johnny, kerja sama dalam PAKET tidak hanya dengan sejumlah SKPD yang mesti dilibatkan, tapi pihak legislatif (DPRD) Kota Palu juga perlu dilibatkan. Tak hanya SKPD yang terlibat dalam PAKET, tapi pihak swasta juga digandeng guna melaksanakan program terkait masyarakat miskin. Untuk itu, Pokja PAKET kota Palu bersama Panitia Kemitraan (Pakem) menggandeng perusahaan Nestle yang memproduksi susu Dancow. Anggaran dari Pokja PAKET hanya bisa mensuplay 20 hari untuk 172 anak-anak usia sekolah dari warga miskin, terbantu dengan minuman susu sehat. Namun, dengan kerja sama tersebut, bantuan bisa menjadi 45 hari.

Apa upaya Johnny dalam menggaet sejumlah kolega maupun masyarakat serta sejumlah SKPD di kota Palu agar semakin peduli dalam melaksanakan program penanggulangan kemiskinan terpadu? ”Hanya menggunakan cara pendekatan informal,” jawab Johnny. Selain itu, perlu pula keterbukaan dengan sesama rekan dalam Pokja PAKET. Kemudian, setiap masalah harus dibicarakan bersama agar masalah yang muncul dapat dipikirkan secara bersama-sama dan solusinya juga ditemukan secara bersama-sama.

Dengan kerja sama tim yang cukup solid itu, akhirnya Pemerintah Kota (Pemkot) Palu mengontrak sebuah rumah lengkap dengan mobilernya untuk digunakan Pokja PAKET dalam melaksanakan kerja-kerja kesehariannya. Sekretariat Pokja PAKET yang terletak di Jalan Cendrawasi itu tak pernah sepi disambangi sejumlah SKPD di kota Palu maupun masyarakat yang ingin mencari peluang-peluang kerja sama.

Adakah yang membahagiakan Johnny terkait pelaksanaan PAKET? ”Ada kepuasan tersendiri kalau program ini bisa dinikmati masyarakat miskin,” tandasnya. Di samping itu, sinergi yang terbangun dalam pelaksanaan PAKET membuat jaringan kerja sama dengan para pihak, baik pemerintah maupun pihak swasta, semakin terbuka lebar.

Artinya, lanjut Johnny, dengan PAKET ini, kita semakin banyak kawan. ”Dan, kawan adalah investasi bagi saya,” tuturnya. Menurut Johnny, banyak pihak yang akan terlibat dalam program-program penanggulangan kemiskinan, namun masalahnya hanya soal waktu dan cara melakukannya.

Lalu, bagaimana dengan dukanya selama memfasilitasi dan melakukan pendampingan terkait pelasanaan PAKET maupun pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan? ”Suatu ketika, istri saya bertanya, ’Apa kau ini masih waras atau tidak? Sejumlah orang kau fasilitasi bantuan, sementara atap rumahmu sendiri pada bocor?’,” tutur Johnny.

Menanggapi pertanyaan istrinya yang bekerja sebagai pegawai Dinas Pariwisata di kota Palu itu, Johnny menjawab, ”Apalah arti tetesan air hujan dibanding ribuan warga miskin di kota Palu, yang setiap saat merasakan sejuta kerisauan di kepalanya, karena problem kemiskinan yang masih terus bergelayut dalam hidup mereka?” (Tasrief Siara, TA Monev KMW VI Sulteng, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar