VISI BKM ANUNTODEA

"MEWUJUDKAN MASYARAKAT SEJAHTERA YANG MANDIRI DENGAN PENATAAN LINGKUNGAN YANG SEHAT DAN ASRI"



Jumat, 22 Januari 2010

BKM ANUNTODEA GANDENG DINKES SULTENG


Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Anuntodea Donggala Kodi, Kecamatan Palu Barat, terbilang cukup reponsif terkait permasalahan warga miskin di wilayahnya. Buktinya, BKM ini menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk bersama-sama mengatasi balita rawan gizi dari keluarga miskin, dalam sebuah kegiatan memberikan bantuan Makanan Pendamping (MP) ASI.

Dalam kegiatan yang digelar di Pusat Pelayanan Terpadu (Posyandu) Kelurahan Donggala Kodi, Rabu (4/3/2008) ini, 48 balita kategori kurang gizi dan 2 balita gizi buruk dari keluarga miskin yang terdaftar dalam kegiatan Pemetaan Swadaya (PS) 2. Para balita ini mendapatkan bantuan berupa bubur beras merah dan bubur kacang hijau sebanyak 13 karton, ditambah 72 karton biskuit MP ASI.

Ketua Unit Pelaksanan Sosial (UPS) BKM Donggala Kodi Edward Lasut memaparkan, nilai bantuan untuk kegiatan tersebut tercatat sekitar Rp 50 juta. ”Kegiatan ini merupakan program channeling BKM Anuntodea Donggala Kodi dan Dinkes Provinsi Sulteng,” jelasnya.

Sementara itu, ketua panitia kegiatan Farida SPd menjelaskan, berdasar hasil identifikasi ditemukan dua anak — kakak beradik — Asriani (10 bulan) dan Masriani (20 bulan) yang mengalami gizi buruk. Ayah kedua balita tersebut bernama Daeng Nompo, berprofesi sebagai tukang becak. ”Kami menilai kedua balita ini mengalami gizi buruk, karena balita Asriani berat badannya hanya 5,1 kg. Sedangkan Muliani beratnya hanya 9 kg,” ungkap Farida.

Farida, yang juga seorang guru SMP ini mengatakan, makanan tambahan berupa susu dan biskuit tersebut didapat dari hasil kegiatan channeling program dengan Dinkes Provinsi Sulteng, dikoordinasikan dengan Dinkes Kota Palu. Program PMTAS ini, lanjut Farida, akan dilakukan selama 6 bulan sesuai dengan jumlah bantuan susu dan biskuit yang tersedia. Kemudian, akan dilanjutkan sesuai kebutuhan, dengan melakukan channeling program selanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Koodinator BKM Anuntodea Donggala Kodi Johny Johan menjelaskan, berdasar data PJM Pronangkis, dari 232 balita warga miskin, 48 di antaranya masuk dalam kategori kurang gizi dan 2 balita kategori gizi buruk. Anak-anak balita kurang gizi itu, katanya, berasal dari keluarga petani, tukang becak dan buruh bangunan. ”Pemberian susu dan makanan tambahan ini sebagai langkah antisipasi agar kasus balita gizi buruk tidak makin bertambah. Kita harus mengambil tindakan cepat agar tidak terjadi peristiwa kematian warga miskin karena kelaparan seperti di Makassar,” tegas Johny di hadapan sejumlah wartawan yang menghadiri acara.

Menurut Johny, kegiatan pemberian makanan tambahan siswa dan balita ini dilakukan per 5 Maret 2008, bekerja sama dengan Dinkes Provinsi Sulteng. Kegiatan tersebut ditujukan bagi anak-anak balita dan anak sekolah, difasilitasi oleh Panitia Kegiatan Sosial Simpotove BKM Anuntodea Kelurahan Donggala Kodi bersama dengan Puskesmas, Pustu, Posyandu dan sekolah SD yang berada di kelurahan Donggala Kodi.

”Pekan ini, akan diberikan jatah untuk dua minggu kepada warga miskin. Berikutnya, BKM dan dinkes akan melakukan evaluasi perkembangan berat badan. Seterusnya, kembali diberikan tambahan jika tidak ditemukan perkembangan yang siginifikan,” jelas Johny.

Pria yang juga berperan sebagai Koordinator Forum BKM Kota Palu ini memaparkan, rencananya pekan depan 182 siswa SD selama akan diberikan makanan tambahan berupa susu selama 6 minggu, melalui dana Program Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (PAKET).

Program yang juga menggadeng Dinkes Provinsi Sulteng dan Kota Palu, serta PT. Nestle sebagai produsen Susu Dancow ini merupakan lanjutan dari program sosialisasi tentang perbaikan gizi masyarakat dan penyakit menular, yang dilaksanakan BKM Anuntodea dan Dinkes Provinsi Sulteng pada 8 Desember 2007.

Sementara itu, Team Leader KMW VI PNPM P2KP Sulawesi Tengah berharap, kegiatan semacam ini dapat menjadi wadah sinergi dari berbagai program, sehingga dapat menjawab masalah yang dihadapi warga miskin. (Tasrief Siara, TA Monev KMW VI P2KP-2 Sulteng, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar